“Al-Hasan bin Arafah menceritakan kepada kami,
ismail bin Ayyas memberitahukan kepada kami dari bahir bin Sa’ad, dari
Khalid bin Mad;an, dari Katsir bin Murrah al-Hadhrami, dari Mu’adz bin
Jabal, dari nabi Saw. Beliau bersabda, ‘Tidaklah seorang perempuan
menyakiti suaminya di dunia melainkan istri bidadarinya (di surga nanti)
akan berkata, ‘Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah membalasmu,
karena sesungguhnya, dia disampingmu sebagi tamu yang sebentar lagi akan
berpisah darimu akan datang kepadaku.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).
Hadits tersebut merupakan peringatan keras bagi kaum perempuan, khususnya para istri agar tidak menyakiti perasaan suaminya, terlebih bila si suami sudah menunjukan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga.
Menyakiti hati atau fisik suami merupakan
perbuatan terlarang karena hal itu termasuk perbuatan dosa. Bila ada sikap suami yang kurang berkenan di hati istrinya, maka cara terbaik untuk menyikapi hal itu adalah dengan tidak menyakiti perasaan si suami secara langsung dan ingatkanlah dengan perkataan lemah lembut.

Hadits tersebut merupakan peringatan keras bagi kaum perempuan, khususnya para istri agar tidak menyakiti perasaan suaminya, terlebih bila si suami sudah menunjukan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga.
Menyakiti hati atau fisik suami merupakan
perbuatan terlarang karena hal itu termasuk perbuatan dosa. Bila ada sikap suami yang kurang berkenan di hati istrinya, maka cara terbaik untuk menyikapi hal itu adalah dengan tidak menyakiti perasaan si suami secara langsung dan ingatkanlah dengan perkataan lemah lembut.
